Dalam khazanah keilmuan Islam Nusantara, warisan para ulama salaf berupa kitab-kitab kuning (kitab klasik berbahasa Arab gundul) memiliki tempat yang sangat istimewa. Di antara ribuan judul kitab yang dipelajari di pesantren-pesantren dan majelis taklim, terdapat satu judul yang namanya sangat harum dan menjadi "makanan pokok" bagi para penuntut ilmu di tingkat pemula hingga menengah. Kitab tersebut adalah .
Tidak seperti kitab Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali yang tebal dan kompleks, Uqudul Juman disajikan dalam bab-bab pendek. Namun, setiap kalimatnya bagaikan pukulan yang menyentuh qalbu.
Sunnah para salaf adalah membaca kitab bersama guru ( sima’an ) atau setidaknya dibaca bertahap dengan tekad mengamalkan, bukan hanya memilikinya.
: Terjemahan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda (seperti dalam buku Cendekia Press ) membantu mengurai makna filosofis di balik setiap bait syair.